Stres, Kakek Kusno Gantung Diri di Dapur




MADIUN - Sri Ani kaget saat mendapati suaminya, Kusno (62), warga Desa Bakur, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun, tewas gantung diri di dalam dapur rumahnya.
Kakek Kusno diduga nekat mengakhiri hidupnya karena mengalami gangguan kejiwaan atau stres.
Kepala Polsek Sawahan, AKP Agung Darmawan yang dikonfirmasi membenarkan tewasnya Kusno karena gantung diri.
Kusno ditemukan tak bernyawa dalam posisi leher tergantung di salah satu tiang dapurnya.
Penemuan mayat Kusno bermula ketika istrinya, Sri Ani masuk ke dapurnya. Tak dinyana di salah satu sudut dapur, Sri menemukan suaminya sudah tewas dalam kondisi mengenaskan.
Kusno menggantung diri dengan seutas tali nilon berwarna hijau pada salah satu kayu dapur rumahnya.
Mengetahui hal itu, istri Kusno berteriak meminta tolong. Tak berapa lama kemudian, anaknya, Sumanto dan warga setempat berdatangan ke dapur rumah korban.
Dari keterangan beberapa saksi, Kusno diduga nekat mengakhiri hidupnya karena depresi.
Hasil olah tempat kejadian perkara, polisi tidak menemukan tanda-tanda penganiayaan dan mencurigakan.
Atas permintaan pihak keluarga korban, mayat Kusno tak diotopsi. Selanjutnya, mayat Kusno diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. (yat)
8888888888888888
Warga di Pasuruan Unjuk Rasa dengan Tabur Bunga di Jalan Rusak
http://assets.kompas.com/data/photo/2016/12/27/1353192Demo-Jalan780x390.jpgKontributor Pasuruan, Moh. Anas Sejumlah warga Desa Beji Kecamatan Beji Kabupaten Pasurun gelar protes jalan rusak dengan aksi pancing dan tabur bunga di Jalan Raya Pasuruan-Probolinggo, Selasa (27/12/2016)
PASURUAN - Sejumlah warga di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, protes atas rusaknya jalan raya Pasuruan-Probolinggo dengan aksi memancing dan tabur bunga di jalan yang rusak parah.
Warga mengatakan, jalan sepanjang 500 meter di jalur Km 34 Dusun Kemloko, Desa Beji, mengalami rusak parah. Hampir sepanjang jalur itu ditemui "jeglong" atau kubangan yang sering mengakibatkan kecelakaan.
Selain itu, setiap sore jalur itu kerap mengalami kemacetan panjang karena pengendara melambatkan kendaraannya di jalan rusak.
"Ya, kesal kami hampir tiap hari melintas di sini. Dan, ini sangat rawan kecelakaan karena jeglongannya lumayan dalam," ujar Hendri Sulfianto, koordinator aksi.
Aksi spontan warga tersebut sempat mengundang perhatian pengguna jalan. Meski jumlahnya hanya sekitar 7 orang, aksi itu sempat menimbulkan kemacetan panjang dan harus mendapatkan pengawalan dari kepolisian setempat.
Pengunjuk rasa membawa benih ikan lele serta kail ikan di sekitar titik jalan yang berkubang dengan genangan air. Mereka juga membawa bunga untuk ditaburkan.
"Lubang menganga rata-rata berdiameter satu meter dengan kedalaman rata-rata 20 sentimeter. Dan, tabur bunga seperti ini agar pengguna jalan tetap selamat," tambah Hendri.
Menurut warga, rusaknya jalan tersebut akibat bocornya pipa PDAM. Kerusakan jalan lebih dari enam bulan serta tidak ada perbaikan yang serius, hanya tambal sulam.
Sementara itu, seorang pengguna jalan mendukung aksi spontanitas warga itu. Dia berharap ada perhatian dari pihak terkait.
"Ya, saya dukung aksi seperti ini. Walau sempat macet, semoga ada perhatian dan perbaikan jalan. Karena jalan di sini memang parah," tutur Ziaul Haq, pengguna jalan. (per)
999999999999999

Cegah Laka Laut, Gunung Kidul Pasang 50 Papan Peringatan di Pantai

http://assets.kompas.com/data/photo/2016/08/17/12523327172016125021780x390.jpg
  •  
GUNUNG KIDUL - Setiap musim liburan seperti tahun baru, destinasi wisata pantai di Kabupaten Gunung Kidul selalu dipenuhi wisatawan.
Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Gunung Kidul bersama SAR Linmas memasang 50 papan peringatan di titik-titik berbahaya.
"Saat ini destinasi yang paling banyak di kunjungi wisatawan adalah pantai. Angkanya bisa mencapai 80 persen hingga 85 persen," ujar Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Gunung Kidul, Heri Sukmono saat dihubungi.
Heri menyampaikan, guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya membuat papan-papan peringatan bagi wisatawan. Papan peringatan ini berisi imbauan tidak mandi di pantai maupun imbauan tidak berteduh di cerukan tebing. Sebab, beberapa titik cerukan tebing di beberapa pantai berbahaya untuk berteduh.
"Kita memfasilitasi membuat papan-papan pengumuman atau peringatan. Total kemarin kita membuat sekitar 50 papan peringatan," ucapnya.
Papan peringatan tersebut diserahkan kepada anggota SAR Linmas. Sebab SAR Linmas yang mengetahui titik-titik mana saja yang berbahaya.
"Sudah dipasang kemarin di sepanjang pantai sebelum liburan. Kita serahkan ke SAR Linmas yang mengetahui titik-titik berbahaya," ucapnya.
Selain membuat papan pengumuman, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Gunung Kidul juga minta bantuan dari lintas sektor dengan menurunkan sebanyak 407 personel guna melakukan pengamanan. Personel lintas sektor baik dari polres, Kodim, Dinas Perhubungan, Pol PP dan SAR Linmas ini akan ditempatkan di jalur menuju destinasi wisata maupun di lokasi wisata.
"Pengamanan liburan nanti dibantu 407 personel dari lintas sektor. Personel ini mengamankan jalur lalu lintas menuju tempat wisata, dan pengamanan di lokasi wisata itu sendiri," pungkasnya. (nan)
99999999999999
"Kring Kring Kring...Om Ontel Om”
http://assets.kompas.com/data/photo/2016/12/24/2034007MVI-3715.MOV-snapshot-00-.00-2016-.12-.24-21-.28-.31-780x390.jpg 
PAREPARE Kring kring kring... Om ontel Om. Ini bukan suara riuh Om telolet Om dari klakson bus yang keras, namun ini adalah kring kirng kring suara lonceng sepeda ontel.
Ya....ratusan pencinta sepeda ontel yang tergabung dalam Komunitas Ontel Pinrang (Kopi), melakukan jelajah tiga daerah dalam rangka mengisi waktu liburan. Jarak yang ditempuh sekitar 100 kilometer, dari kabupaten Pinrang, menuju Kota Parepare, lalu ke Kabupaten Sidrap,dan kembali ke Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.
Kring kring kring, kami membunyikan lonceng sepeda ontel kesayangan kami, dan meneriakkan Om ontel Om, “ jelas Ketua Komunitas Ontel Pinrang, Andi Iqbal.
Lanjut Iqbal, selain mengisi waktu libur, komunitas pencinta sepeda tua ini juga mengampanyekan hidup sehat dengan bersepeda.
Selain itu, kata Iqbal, komunitasnya juga mengkampanyekan bahaya tradisi teriak di jalan menunggu bunyi klakson bus atau mobil truk, di pinggir Jalan. “Daripada Om telolet Om, ayo bersepeda , tubuh bisa bugar dan sehat, Om ontel Om,“ Canda Iqbal.
Di jalan yang ia lalui menuju Kabupaten Pinrang ke Kota Parepare, Sulawesi Selatan, sejumlah warga sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas Sepeda Ontel, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.
“Ketua Komunitas Ontel Pinrang dulunya seorang kepala kelurahan di wilayah Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang,“ jelas Rahma, warga Bili Bili, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. (pin)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Lagi Terduga Teroris di Solo Digeledah Rumahnya oleh Densus 88

Seni Tari SDN Mintaragen 1 Raih Juara Tingkat Karesidenan

OKNUM PEGAWAI DINAS CATATAN SIPIL SALING LEMPAR TANGGAN