Satu Lagi Terduga Teroris di Solo Digeledah Rumahnya oleh Densus 88




Kontributor Surakarta, M Wismabrata Polisi menggeledah rumah milik terduga teroris bernama H di Kartasuro, Selasa (19/7/2016).
SOLO  - Selain menggeledah rumah Tri Setyoko, anggota tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri juga menggeledah rumah terduga teroris lain, yaitu Yasir (30), di Kampung Sewu, juga di Losari, RT 04 RW 02 Semanggi Serengan, Solo, Jawa Tengah.
Dalam penggeledahan yang dibantu anggota Polres Kota Surakarta dan pasukan Gegana Brimob sekitar pukul 15.15 WIB itu, Densus menemukan empat paspor dan buku nikah yang dibungkus dengan kantong kertas warna cokelat. Temuan itu kemudian dimasukkan ke dalam mobil Labotorium Forensik Polresta Surakarta.

"Polisi menggeledah rumah Yasir itu, dan dia ditangkap pada Minggu pagi," kata Ayup, salah satu kerabat Yasir.

Dalam penggeledahan rumah terduga teroris sebelumnya, yaitu Tri Setiyoko yang merupakan warga Kampung Sewu RT 01 RW 07 Kecamatan Jebres Solo, dan dilanjutkan ke rumah Yasir, polisi belum menemukan benda-benda berbahaya seperti bahan peledak untuk merakit bom.
Polisi dalam penggeledahan di dua tempat berbeda tersebut hanya menemukan cairan zat kimia berwarna kuning dalam dua jerigen, tas rangsel, pipa paralon, telepon genggam, empat paspor, serta buku nikah.

Polisi sejauh ini belum memberikan keterangan secara resmi terkait penangkapan kedua terduga teroris di Solo tersebut.

Menurut Kasat Reskrim Polresta Surakarta Kompol Agus Puryadi di lokasi penggeledahan, pihaknya hanya membantu
Densus 88 dalam pengamanan di lokasi wilayah Solo. Agus Puryadi mengatakan, kedua terduga teroris itu yang ditangkap pada Minggu pagi.

"Kami tidak bisa menjelaskan soal kedua orang yang ditangkap itu, karena kewenangan Densus. Yang jelas kedua orang ini, ada hubunganya dengan penangkapan oleh Densus, di Purworejo, Jateng, Sabtu kemarin.
5555555555555555
BPJS Kesehatan Akhirnya Masuk ke Kutai Barat
http://assets.kompas.com/data/photo/2014/09/19/141423920141-2-261132p2780x390.JPGTRIBUN PONTIANAK / GALIH NOFRIO NANDA Warga menunggu giliran untuk mendapatkan pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di Kantor BPJS Kesehatan di Pontianak, beberapa waktu lalu.
  •  
SAMARINDA - Akhirnya, warga Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur bisa menikmati fasilitas Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan.
Pemerintah Kabupaten Kubar bahkan telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan BPJS Kesehatan Cabang Utama Samarinda.
Bupati Kuba FX Yapan mengatakan, perjanjian kerjasama tersebut mengenai integrasi jaminan kesehatan daerah kabupaten Kutai Barat ke program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN-KIS) dan jaminan kesehatan bagi pegawai pemerintah non-pegawai negeri.
Mereka yang termasuk pegawai pemerintah non-PNS adalah pada TKK, PTT dan aparat kampung beserta anggota keluarganya.
Jaminan kesehatan tersebut berlaku mulai 1 Januari 2017.
“Kesehatan merupakan hak warga negara karena dengan sehat masyarakat dapat melakukan hal yang positif. Integrasi Jaminan Kesehatan Daerah ke Program JKN-KIS merupakan implementasi, dari Program Strategis Nasional,” kata Bupati Yapan, Minggu (18/12/2016).
Bupati melanjutkan, hal itu merupakan implementasi dari salah satu Nawacita Presiden Joko Widodo pada poin ke lima, yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui layanan kesehatan masyarakat dengan menginisiasi Kartu Indonesia Sehat (KIS).
“Integrasi Jaminan Kesehatan Daerah dan Jaminan Kesehatan bagi PPNPN ini tidak lepas dari peran Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Barat yang merupakan pihak yang ditunjuk Pemkab Kutai Barat sebagai leading sector dan juga didukung  Dinas/UPTD lainnya,” jelasnya.
Selain itu, Pemkab Kubar juga mendorong seluruh pihak memiliki andil dan kontribusi dalam pelaksanaan Program JKN.
Dorongan yang dimaksud dalam hal ini adalah meminta pihak swasta wajib mendaftarkan seluruh tenaga kerja dan anggota keluarganya menjadi peserta JKN-KIS.
Pemerintah juga mendorong kelompok masyarakat yang mampu untuk dapat membiayai dirinya sendiri dan anggota keluarganya untuk menjadi peserta program JKN-KIS.
“Dengan adanya perjanjian kerjasama ini, maka dimulailah tahapan cakupan Jaminan Kesehatan Masyarakat Kutai Barat menuju total health coverage 2019 sehingga mampu berkontribusi meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik,” pungkasnya. 
6666666666666666
Lima Agama Berdoa Bersama Tolak Praktik Intoleransi
http://assets.kompas.com/data/photo/2016/12/18/1152082doa780x390.jpgKontributor Surabaya, Achmad Faizal Doa bersama lintas agama di Surabaya, Sabtu (17/12/2016)
SURABAYA  - Komunitas lintas agama Surabaya berkumpul menggelar doa bersama agar Indonesia terhindar dari praktik-praktik intoleransi. doa bersama digelar usai perayaan Natal oleh persekutuan doa Oukumene Kasih Surabaya, Sabtu malam.
Diiringi sinar lilin, doa dipanjatkan dengan cara lima agama, yakni Islam, kristen, protestan, hindu, dan budha. Meski doa dilakukan dengan cara lima agama, namun hanya satu yang diminta, yakni agar bangsa Indonesia yang multikulture tetap menjaga persatuan dan kesatuan.
Usai pembacaan lima macam doa dari lima agama, mereka menutup pembacaan doa dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri.
Selain dari perwakilan Keuskupan Surabaya, doa bersama juga dihadiri oleh perwakilan Parisada Hindu Dharma, Persatuan Gereja Pantekosta, Wihara Budayana Dharmawira Center, aktifis Gusdurian, Angkatan Muda Kristen, Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia, dan kelompok Persekutuan Doa Oukumene Kasih.
Aan Ansori, aktivis Jaringan Islam Anti Diskriminasi, mengatakan, doa bersama lintas agama tersebut dilakukan sebagai respon atas sejumlah peristiwa intoleran yang terjadi beberapa bulan terakhir.
"Kami percaya, dengan kekuatan doa, bangsa Indonesia akan lebih baik kedepannya," katanya.
Dia yakin, tidak ada satupun agama di dunia yang mengajarkan kekacauan, saling menghujat, dan saling menjatuhkan.
"Semua agama di dunia mengajarkan kasih sayang dan perdamaian," ujarnya.
Pihaknya mengecam segala bentuk praktik intoleransi yang ada karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang multikultur. Mereka juga meminta Presiden Jokowi bersikap tegas menindak segala bentuk praktik intoleransi. 
777777777777777777777
Wali Kota Janji Wajah Kota Semarang Akan Berubah pada 2018
http://assets.kompas.com/data/photo/2016/07/14/1427063image780x390.jpegKontributor Semarang, Nazar Nurdin Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi
  •  
SEMARANG– Wali Kota Semarang, Jawa Tengah, Hendrar Prihadi berharap produk-produk lokal bisa berkembang seiring mulai menggeliatnya perekonomian di wilayah itu. Produk lokal diharapkan bisa mengisi rencana perubahan kota ini.
“Tahun 2018 ini, wajah Kota Semarang berubah. Nanti bakal ada pertumbuhan yang signifikan. Lonjakan ini harus disikapi dengan jitu, dengan penguatan potensi lokal dari handycraft, perhotelan, lembaga keuangan,” kata Hendrar, di sela pelantikan Pengurus Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) Kota Semarang.
Dalam siaran tertulisnya itu, Wali Kota mengatakan, momentum perubahan itu bakal terjadi seiring dengan selesainya pembangunan terminal baru Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang yang kapasitasnya 20 kali lebih besar. Pelabuhan Tanjung Emas di Kota Semarang juga sudah berbenah.
Kota Semarang juga menjadi titik persinggahan untuk jalan tol di Pulau Jawa, antara lain jalur Semarang-Solo, jalur jalur Semarang-Demak dan jalur Semarang-Batang.
Atas perubahan itu, pihaknya mengajak kalangan pengusaha untuk ikut menyiapkan perubahan itu. Wali Kota yakin pengusaha memiliki keterampilan untuk ikut membangun kota bersama pemerintah.
“Kami dari Pemerintah Kota Semarang dan Kadin yakin dapat bersinergi ke depan. Salah satunya penetapan upah minimum kota. Kadin dan Apindo bisa membuat format bersama agar jadi kesepakatan UMK antara pengusaha dengan pekerja,” ujarnya.
Sebelumnya, investasi di Kota Semarang, Jawa Tengah, dinilai masih belum tumbuh dengan baik, terutama dalam properti. Pemerintah daerah setempat dianggap masih memiliki ego sektoral dalam menjalankan dunia usaha, sehingga geliat properti tidak bisa berkembang maksimal.
Konsultan properti Lilly Tjahnadi mengatakan Semarang tertinggal dalam perkembangan properti dibanding dengan kota besar lainnya. Hunian masa depan seperti apartemen sangat jarang dikembangkan. Padahal kota ini potensial untuk pengembangan ekonomi.
“Kalau Jakarta ruwet, semestinya Semarang nampung. Tapi itu masih individual, belum ada yang koordinasi,” ujar dia. 
555555555555555555
“Mr Wongsonegoro” Diusulkan Jadi Nama RSUD Semarang
SEMARANG– Salah satu tokoh di pertempuran lima hari di Semarang, Jawa Tengah, Mr. Wongsonegoro diusulkan menjadi nama baru rumah sakit umum daerah (RSUD) Kota Semarang.
Mantan Gubernur Jawa Tengah itu dinilai pantas menyandang nama di rumah sakit atas perjuangannya selama ini.
“Kami terinspirasi dengan sosok Mr. Wongsonegoro saat menjadi Gubernur Jateng. Beliau orang sipil yang ikut mengusir penjajah, mempunyai sikap rendah hati melayani dengan tulus. Kami ingin usulkan namanya,” kata Direktur Utama RSUD Kota Semarang Susi Herawati.
Mr. Wongsonegoro adalah satu sosok yang terlibat dalam pertempuran lima hari di Semarang. Selain dia, sosok lain yang dikenal antara lain dr. Kariadi, Dr. Sukaryo dan Sudanco Mirza Sidharta, Mayor Kido, drg Soenarti, Kasman Singodimejo dan Jenderal Nakamura. Dari sekian nama itu, baru nama dr. Kariadi telah diabadikan menjadi rumah sakit.
RSUD Semarang disarankan untuk diubah namanya oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. RSUD Semarang ini terletak di Kelurahan Ketileng, Kecamatan Pedurungan. RSUD ini berumur 26 tahun telah menorehkan sejumlah prestasi.
Rumah sakit itu terakhir mendapat Akreditasi Lulus tingkat Paripurna, lantaran mutu pelayanan, dan keselamatan pasien menjadi yang utama.
“Kami ingin mengangkat nama pahlawan Wongsonegoro sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang,” ujar Susi.
Sementara itu, Hendrar Prihadi meminta agar nama Mr. Wongsonegoro segera di-launching menjadi nama baru RSUD Semarang. Menurut dia, sosok Wongsongeoro adalah pahlawan bagi Kota Semarang, namun telah berprestasi di tingkat Jateng dan Nasional.
Hendrar juga meminta agar pelayanan di rumah sakit bisa lebih ramah terhadap pasien. Sebab, berdasarkan laporan yang diterima para perawat tidak menunjukkan keramahan dalam merawat pasien.
“Ada yang laporan ke saya, Suster di RSUD Ketileng kok jutek-jutek? Apa tidak pernah dilakukan pembinaan? Saya ingatkan, kita sebagai pelayan yang bijak jangan alergi dengan yang namanya kritik, komplain dan saran, segera instrospeksi,” kata Hendrar.
“Saya ingin peningkatan mental dan perilaku. Sekarang, kita harus melayani dan bukan dilayani,” pesan Wali Kota ini. 
66666666666666666666

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seni Tari SDN Mintaragen 1 Raih Juara Tingkat Karesidenan

OKNUM PEGAWAI DINAS CATATAN SIPIL SALING LEMPAR TANGGAN