AJT MENDESAK TAMBAHAN ANGGARAN MASKIN RSUD DR ISKAK TULUNGAGUNG
TULUNGAGUNG – Terkait sorotan dari kalangan LSM yang mengatakan jika pihak rumah sakit “Melawan “ Intruksi Bupati Tulungagung soal pelayanan perawatan masyarakat miskin yang masih membayar, ketua Aliansi Jurnalis Tulungagung ( AJT ) merespon keluhan pihak Rumah Sakit Dr Iskak Tulungagung.
Catur Santoso, Ketua Aliansi Jurnalis Tulungagung ( AJT ) angkat bicara. Catur menyampaikan bahwa setelah melakukan audensi dengan Komisi C DPRD, BPJS, Dewan Kesehatan Rakyat ( DKR ) serta Anggota AJT, ia menyimpulkan bahwa pihak managemen rumah sakit sudah memberikan pelayanan secara maksimal, tetapi dikarenakan anggaran bagi Maskin yang memang kurang bahkan mengalami devisit sekitar Rp 700 juta, maka pihak rumah sakit mengambil keputusan ditengah yang tetap memihak maskin.
Oleh karena itu Catur mendesak kepada DPRD Tulungagung bersama Bupati untuk memberikan tambahan anggaran pada Tahun 2016 termasuk dalam Perubahan Anggaran Keuangan ( P.A.K ).
Perlu diketahui, pada tahun anggaran 2015, RSUDr. Iskak mendapat anggaran sekitar Rp 2 Milyard untuk pelayanana kesehatan bagi masyarakat miskin dengan harapan bisa digratiskan.Tetapi kenyataanya pada anggaran sebesar itu, jumlah maskin yang dirawat di RUU Dr. Iskak melebihi kuota alias over loud sehingga anggaran itu tidak cukup.
Sementara itu Dr. Supriyanto, Direktur RUU Dr. Iskak mengatakan, pada tahun 2015 anggaran bagi maskin yang tidak tercover Jamkesmas, Jamkesda dan BPJS masih mengalami devisit anggaran Rp 700 Juta. “Mohon dimaklumi jika masih ada kekurangan di sana sini, tetapi pada prinsipnya kami tetap melaksanakan intruksi Bupati agar memberikan pelayanan gratis kepada maskin Tulungagung”, ungkap Dr. Supriyanto.
Hal itu dikarenakan selama ini Rumah Sakit Dr. Iskak dianggap tidak mau melaksanakan Intruksi Bupati, sehingga terus disoroti kalangan LSM. “Padahal kita sudah memberikan pelayanan sebaik mungkin terhadap pasien miskin, namun karena anggaran kita dari APBD tidak mencukupi maka kita sampaiakan kepada pasien atau keluarga pasien agar bisa membayar meskipun separo”, katanya lagi.
Selain itu AJT dalam audensi juga memberikan apresiasi kepada Dr. Supriyanto beserta jajaranya yang sudah berhasil memajukan rumah sakit ini, apapun alasanya dari tangannya bisa membawa Tulungagung lebih dikenal karena keberhasilanya membuat terobosan.
Penetapan dari Menteri Kesehatan beberapa waktu lalu, otomatis para tenaga medis di RSUD dr Iskak Tulungagung bersiap menjadi dosen perguruan tinggi. Penetapan ini menambah deretan jumlah rumah sakit pendidikan menjadi 67 unit dari 320 rumah sakit di Indonesia .
Direktur RSUD Dr Iskak, Supriyanto menyampaikan, rumah sakit saat ini memiliki 1.987 pegawai dengan 432 unit tempat tidur pasien itu dinyatakan layak menyandang predikat sebagai rumah sakit pendidikan. Konsekuensinya tenaga medis terutama dokter di RSUD dr Iskak wajib menjadi dosen. Mereka tidak hanya melayani pasien. Tetapi juga harus melakukan penelitian lazimnya pengajar di kampus.
“Keberadaan rumah sakit pendidikan di Tulungagung akan turut membantu mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Brawijaya Malang yang selama ini hanya bekerjasama dengan RSUD dr. Syaiful Anwar yang berstatus rumah sakit pendidikan utama. Dokter yang hendak bekerja di rumah sakit ini harus bersedia menjadi dosen. Kalau tidak dipersilahkan mencari rumah sakit lain”, kata Dr. Supriyanto.
Dr. Supriyanto SpB menambahkan kesiapannya sebagai rumah sakit pendidikan. Pihaknya telah mempersiapkan berdirinya bangunan asrama mahasiswa di sekitar komplek rumah sakit. Fakultas Kedokteran Unibraw akan menanggung sebagian biaya pendidikan mahasiswanya. Menurut Supriyanto bekerjasama dengan Unibraw Malang akan membuka peluang karir dan kepangkatan dokter yang ada. “SDM kami siap menjadi dosen semua, “ujarnya. (sony)

Komentar
Posting Komentar