Pembangunan Jembatan Desa Jambo Labu menuai Keluhan Masyarakat
ACEH TIMUR - Proyek pembangunan jembatan Desa Jambo Labu, kabupaten Aceh Timur, menuai berbagai keluhan dari kalangan masyarakat setempat.
Jembatan dengan ukuran panjang 11 meter dan lebar 4 meter yang di bangun dengan dana Otonomi Khusus (Otsus) tahun 2015 terlihat ada sebagian folume tidak di kerjakan.
Bahkan informasi yang diterima dari warga setempat, dalam pembangunannya, besi yang di gunakan tidak sesuai dengan spek Proyek pada No. Kontrak 44/SP/Otsus/BM/DPU-AT/VII/2015 di kerjakan oleh CV. Meugah Betari dengan pengawas PT. Megah Karya Nusantara.
Selain itu, Proyek dengan dana senilai Rp 544.761.000 dengan masa kerja dari 07 Juli 2015 hingga 03 Desember 2015 tersebut, tidak semua item dari folume kontrak di kerjakan, seperti Talut (ofrit) dan penimbunan tanah timbun (orfit) kiri dan kanan ujung jembatan tidak dikerjakan sedikitpun, sehingga warga masyarakat harus bergotong royong menimbun dan membuat talud dari kayu balok.
Demikian keterangan tersebut diungkapkan Kepala Dusun Sido Golek, Desa Jabo Labu, kecamatan Birem Bayeun, kabupaten Aceh Timur, Rabu.
“Kami masyarakat di sini merasa di bohongi oleh kontraktor,”ujarnya.
Lihat saja, lanjutnya, mereka meninggalkan pembangunan jembatan yang tidak bisa kami lalui. “terpaksa masyarakat di sini harus bergotong royong untuk membuat talud serta menimbun ujung dan pangkal jembatan agar bisa di lalui oleh masyarakat,”keluhnya.
Sementara PPTK proyek jembatan, Umam saat dikonfirmasi melalui ponselnya Kamis mengakui terkait adanya folume yang tidak di kerjakan.
“Memang benar, ada folume yang tidak di kerjakan oleh kontraktor,”katanya.
Sebab, sambungnya, dikarenakan uang nya sudah habis. “mau bagaimana lagi, saya saja selaku PPTK nya bingung karena uangnya sudah habis, jadi ya begitulah keadaannya,”jelasnya.
“Terjadinya hal tersebut dikarenakan duluan lahir uang baru lahir proyek, biasanya yang lahir lebih dulu proyek baru lahir uang, jadi begitulah kondisinya sekarang, kami sangat capek bekerja, begitu lahir uangnya kami harus ke lapangan untuk mengukurnya, “terangnya
(siti)
Komentar
Posting Komentar